Jumat, 30 Juli 2010

CIA-Google Awasi Web Untuk Data Intelejen

Ellyzar Zachra PB
 

(IST)
 
INILAH.COM, Jakarta- Google dan CIA bekerja sama untuk mengawasi internet secara realtime. Informasi intelejen yang dikumpulkan untuk memprediksi peristiwa yang bakal terjadi.

Perusahaan bernama Recorded Future yang meniliti puluhan ribu situs, blog dan akun jejaring sosial untuk menemukan hubungan antara orang-orang dalam sebuah organisasi, kegiatan dan peristiwa, baik masa kini maupun akan datang.

Recorded Future mengatakan mesin analisis sementaranya mampu ‘melampaui mesin pencarian’ dengan menyelidiki ‘link yang tak terlihat’ dari dokumen yang saling berkaitan dengan kejadian tertentu.

Ide awal tindakan ini adalah mencari tahu setiap insiden yang terlibat, di mana hal itu terjadi, dan kapan kejadian tersebut berakhir. Recorded Future mencatat plot obrolan yang menampilan momentum online untuk kejadian apapun.

“Hal terbaik adalah Anda benar-benar dapat memprediksi kurva apapun di berbagai kasus,” ujar Christopher Ahlberg, mantan tentara Swedia dan bergelar PhD dalam ilmu komputer.

Ini bukan pertama kali Google melakukan kerja sama dengan agensi mata-mata Amerika. Sebelum Google dan National Security Agency secara bersama-sama menjaga keamanan jaringan mereka. Google juga telah menjual beberapa peralatan untuk kelompok intelijen rahasia.

Di lain pihak, layanan mata-mata Amerika memiliki ketertarikan begitu tinggi menyangkut ‘intelijen open source” informasi yang tersedia secara luas di publik, namun seringkali tersembunyi di balik acara TV, artikel koran, tulisan blog, video online bahkan laporan radio.

“Informasi rahasia tidak selalu muncul di profesi kami,” kata direktur CIA, Michael Hayden dalam sebuah konferensi di tahun 2008.

“Nyatanya, ada kepuasan dalam menyelesaikan sebuah masalah atau jawaban atas pertanyaaan sulit seringkali hadir akibat dari kebodohan orang yang membiarkan informasi terbuka untuk umum.”

Recorded Future membuat daftar dari halaman informasi pribadi, tempat tinggal ataupun aktivitas orang.

Perusahaan menjelaskan kapan dan di mana kejadian tersebut berlangsung dan menyelidiki dokumen dengan analisis sentimen.

Kemudian hal itu diaplikasikan ke algoritma artificial-intelligence untuk mencari hubungannya. Recorded
 Future memliki indeks lebih dari 100 juta kejadian yang di hosting di server Amazon.com. Analisis ini dilakukan secara real time.

“Kami ada di sana saat hal itu terjadi,” kata Ahlberg saat men demonstrasikan.

Recorded Future memiliki potensi untuk mendapatkan peristiwa atau kejadian lebih awal. Contohnya saja misil jarak jauh Hizbullah.

Tanggal 21 Maret, Presiden Israel Shimon Peres menuduh kelompok teror memiliki senjata seperti SCUD.

Berdasarkan keterangan itu, Recorded Future mampu memberikan dokumen nyata untuk mendukung tuduhan Peres.

Google belum memberikan komentar soal investasi mereka terhadap perusahaan ini. [ito]

http://www.inilah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar